Pak Menteri
Cerita ini saya dapat ketika saya sedang main ke sekre SKI 'negara tetangga'. Ada sebuah artikel di sebuah majalah yang cukup membuat bulu kuduk saya merinding. Saya sudah lupa-lupa ingat tentang cerita detailnya, tapi kurang lebih seperti ini ceritanya.
Ada seorang anak berusia sepuluh tahun. Anak ini tinggal di Surabaya (kalau tidak salah - Red). Suatu ketika dia ingin mengikuti suatu acara perkemahan di Malang. Karena itu dia meminta ijin kepada ayahnya sekaligus untuk meminta uang saku.
Sayangnya, ayah anak tersebut hanyalah seorang pedagang buah. Untuk biaya hidup sehari-hari saja mereka sudah cukup kesulitan, apalagi untuk pengeluaran semacam ini. Ayah si anak pun meminta si anak dan adiknya untuk mengurungkan niatnya karena memang si ayah sedang tidak punya uang.
Tetapi namanya juga masih anak-anak, si anak tersebut tetap ngotot ingin ikut acara camping tersebut. Dia bahkan merajuk selama beberapa hari dan sempat mengancam ayahnya untuk mencarikan uang saku.
Sampai dengan hari keberangkatan, ayah si anak tetap tidak bisa memberi si anak uang. Si anak dan adiknya pun nekat berangkat tanpa uang saku. Di dalam kereta, si anak dan adiknya menangis saking kesalnya terhadap ayah mereka. Kenapa ayah setega ini? Begitu pikir si anak.
Ketika kereta sudah mulai berjalan, tiba-tiba ayah si anak datang sambil berlari-lari. Si anak kaget melihat ayahnya datang. Ternyata si ayah datang untuk mengantarkan bungkusan berisi uang saku untuk si anak. Bahkan, bingkisan itu pun diangsurkan lewat jendela kereta.
Si anak kaget dan terhenyak. Dia pun menangis. Entah uang itu didapat dari menjual apa, atau pinjam dari siapa, si anak tidak tahu. Semua kekesalan dan kemarahan yang ada di hatinya langsung hilang seketika melihat pengorbanan ayahnya. Dia merasa sangat bersalah. Si Ayah yang melihat anaknya menangis pun hanya bisa menatap anaknya sambil berkaca-kaca lewat jendela kereta.
"Saat itu saya langsung berdoa, 'Ya Allah, kalau memang hidupku ini hanya akan merepotkan kedua orangtuaku, maka ambillah nyawaku saat ini juga. Namun apabila suatu saat aku bisa membahagiakan kedua orangtuaku, maka panjangkanlah umurku'," kenang Mennegpora Adhyaksa Dault tentang masa kecilnya.
Sungguh, waktu itu saya benar-benar merasa 'tertampar' setelah membaca cerita ini. Bukan karena terkejut mengetahui bahwa Pak Menteri punya pengalaman seperti ini, tetapi karena saya pun pernah mengalami kisah yang benar-benar mirip dengan beliau. Astaghfirullah...
...allahummaghfirlii waliwalidayya warkhamhumaa kamaa robbayaanii shaghiraaa...
(Ya Allah, ampunilah segala dosaku, dosa kedua ibu bapakku, dan kasihanilah keduanya sebagaimana mereka mengasihiku sewaktu aku kecil.)
Ya Allah, kalau memang hidupku ini hanya akan merepotkan kedua orangtuaku, maka ambillah nyawaku saat ini juga. Namun apabila suatu saat aku bisa membahagiakan kedua orangtuaku, maka panjangkanlah umurku..Kumohon!
Ada seorang anak berusia sepuluh tahun. Anak ini tinggal di Surabaya (kalau tidak salah - Red). Suatu ketika dia ingin mengikuti suatu acara perkemahan di Malang. Karena itu dia meminta ijin kepada ayahnya sekaligus untuk meminta uang saku.
Sayangnya, ayah anak tersebut hanyalah seorang pedagang buah. Untuk biaya hidup sehari-hari saja mereka sudah cukup kesulitan, apalagi untuk pengeluaran semacam ini. Ayah si anak pun meminta si anak dan adiknya untuk mengurungkan niatnya karena memang si ayah sedang tidak punya uang.
Tetapi namanya juga masih anak-anak, si anak tersebut tetap ngotot ingin ikut acara camping tersebut. Dia bahkan merajuk selama beberapa hari dan sempat mengancam ayahnya untuk mencarikan uang saku.
Sampai dengan hari keberangkatan, ayah si anak tetap tidak bisa memberi si anak uang. Si anak dan adiknya pun nekat berangkat tanpa uang saku. Di dalam kereta, si anak dan adiknya menangis saking kesalnya terhadap ayah mereka. Kenapa ayah setega ini? Begitu pikir si anak.
Ketika kereta sudah mulai berjalan, tiba-tiba ayah si anak datang sambil berlari-lari. Si anak kaget melihat ayahnya datang. Ternyata si ayah datang untuk mengantarkan bungkusan berisi uang saku untuk si anak. Bahkan, bingkisan itu pun diangsurkan lewat jendela kereta.
Si anak kaget dan terhenyak. Dia pun menangis. Entah uang itu didapat dari menjual apa, atau pinjam dari siapa, si anak tidak tahu. Semua kekesalan dan kemarahan yang ada di hatinya langsung hilang seketika melihat pengorbanan ayahnya. Dia merasa sangat bersalah. Si Ayah yang melihat anaknya menangis pun hanya bisa menatap anaknya sambil berkaca-kaca lewat jendela kereta.
"Saat itu saya langsung berdoa, 'Ya Allah, kalau memang hidupku ini hanya akan merepotkan kedua orangtuaku, maka ambillah nyawaku saat ini juga. Namun apabila suatu saat aku bisa membahagiakan kedua orangtuaku, maka panjangkanlah umurku'," kenang Mennegpora Adhyaksa Dault tentang masa kecilnya.
Sungguh, waktu itu saya benar-benar merasa 'tertampar' setelah membaca cerita ini. Bukan karena terkejut mengetahui bahwa Pak Menteri punya pengalaman seperti ini, tetapi karena saya pun pernah mengalami kisah yang benar-benar mirip dengan beliau. Astaghfirullah...
...allahummaghfirlii waliwalidayya warkhamhumaa kamaa robbayaanii shaghiraaa...
(Ya Allah, ampunilah segala dosaku, dosa kedua ibu bapakku, dan kasihanilah keduanya sebagaimana mereka mengasihiku sewaktu aku kecil.)
Ya Allah, kalau memang hidupku ini hanya akan merepotkan kedua orangtuaku, maka ambillah nyawaku saat ini juga. Namun apabila suatu saat aku bisa membahagiakan kedua orangtuaku, maka panjangkanlah umurku..Kumohon!