Monday, January 29, 2007

Pak Menteri

Cerita ini saya dapat ketika saya sedang main ke sekre SKI 'negara tetangga'. Ada sebuah artikel di sebuah majalah yang cukup membuat bulu kuduk saya merinding. Saya sudah lupa-lupa ingat tentang cerita detailnya, tapi kurang lebih seperti ini ceritanya.

Ada seorang anak berusia sepuluh tahun. Anak ini tinggal di Surabaya (kalau tidak salah - Red). Suatu ketika dia ingin mengikuti suatu acara perkemahan di Malang. Karena itu dia meminta ijin kepada ayahnya sekaligus untuk meminta uang saku.

Sayangnya, ayah anak tersebut hanyalah seorang pedagang buah. Untuk biaya hidup sehari-hari saja mereka sudah cukup kesulitan, apalagi untuk pengeluaran semacam ini. Ayah si anak pun meminta si anak dan adiknya untuk mengurungkan niatnya karena memang si ayah sedang tidak punya uang.

Tetapi namanya juga masih anak-anak, si anak tersebut tetap ngotot ingin ikut acara camping tersebut. Dia bahkan merajuk selama beberapa hari dan sempat mengancam ayahnya untuk mencarikan uang saku.

Sampai dengan hari keberangkatan, ayah si anak tetap tidak bisa memberi si anak uang. Si anak dan adiknya pun nekat berangkat tanpa uang saku. Di dalam kereta, si anak dan adiknya menangis saking kesalnya terhadap ayah mereka. Kenapa ayah setega ini? Begitu pikir si anak.

Ketika kereta sudah mulai berjalan, tiba-tiba ayah si anak datang sambil berlari-lari. Si anak kaget melihat ayahnya datang. Ternyata si ayah datang untuk mengantarkan bungkusan berisi uang saku untuk si anak. Bahkan, bingkisan itu pun diangsurkan lewat jendela kereta.

Si anak kaget dan terhenyak. Dia pun menangis. Entah uang itu didapat dari menjual apa, atau pinjam dari siapa, si anak tidak tahu. Semua kekesalan dan kemarahan yang ada di hatinya langsung hilang seketika melihat pengorbanan ayahnya. Dia merasa sangat bersalah. Si Ayah yang melihat anaknya menangis pun hanya bisa menatap anaknya sambil berkaca-kaca lewat jendela kereta.

"Saat itu saya langsung berdoa, 'Ya Allah, kalau memang hidupku ini hanya akan merepotkan kedua orangtuaku, maka ambillah nyawaku saat ini juga. Namun apabila suatu saat aku bisa membahagiakan kedua orangtuaku, maka panjangkanlah umurku'," kenang Mennegpora Adhyaksa Dault tentang masa kecilnya.

Sungguh, waktu itu saya benar-benar merasa 'tertampar' setelah membaca cerita ini. Bukan karena terkejut mengetahui bahwa Pak Menteri punya pengalaman seperti ini, tetapi karena saya pun pernah mengalami kisah yang benar-benar mirip dengan beliau. Astaghfirullah...


...allahummaghfirlii waliwalidayya warkhamhumaa kamaa robbayaanii shaghiraaa...
(Ya Allah, ampunilah segala dosaku, dosa kedua ibu bapakku, dan kasihanilah keduanya sebagaimana mereka mengasihiku sewaktu aku kecil.)

Ya Allah, kalau memang hidupku ini hanya akan merepotkan kedua orangtuaku, maka ambillah nyawaku saat ini juga. Namun apabila suatu saat aku bisa membahagiakan kedua orangtuaku, maka panjangkanlah umurku..Kumohon!

Thursday, November 02, 2006

dhanu

oiya, belum kenalan. maap, kenalin dulu nama saya dhanu pinandito, biasa dipanggil dhanu. atau gendhito kalo pas di rumah.

setau saya, dhanu bukan nama yang umum. maksudnya kalo dibandingin sama budi, tono, adi, sari, atau apalah. eh ternyata banyak juga yang pakai nama dhanu. temen sekelas saya juga ada yang namanya danu (tapi ga pake 'h'). udah 3,5 taon sekelas, dan kalo ada yang manggil "nu!" kita berdua tetep sama2 noleh. hehehe...

pinandito, diambil dari kata 'pandito', pendeta atau orang yang bijaksana pada jadulkal (jaman dulu kala). bukan pendeta nasrani lho. maksudnya biar saya memiliki sifat2 yang 'minandito' alias mendekati seorang 'pandito'. gituu...

dhanu, setau saya itu nama kerbau. tau kan, kebo danu dalam cerita joko tingkir? ga tau kenapa saya dikasih tau nama kerbau. mungkin biar saya suka bekerja keras dan pantang menyerah, kayak kerbau. ga tau lah, khusnudzon aja...

berarti kan nama saya artinya bagus juga. orang yang suka bekerja keras, tapi juga punya sifat2 yang bagus juga. ga nyombong lho...

tapi lebaran kemarin saya baru tau kalo ternyata nama saya tu nama turunan. konon, kakek saya juga namanya pake 'danu', om saya (adiknya bapak) juga pake 'danu', dan sekarang giliran saya.

saya ga tau siapa nama lengkap kakek saya dari bapak. soalnya namanya 'soemantri' (mungkin yang pake 'danu' tu mbah buyut saya alias bapaknya mbah mantri). terus om saya (adiknya bapak, anak kedua mbah mantri) namanya 'sulistyono danu kusumo'. danu lagi deh...

nah, sebenernya 'danu' generasi ketiga adalah anak pertama dari om sulis. namanya 'rahmat danu sanjaya' (kalo ga salah). dia lahir sekitar bulan oktober 1984. tapi sayang, dia cuma bertahan selama 10 jam sebelum akhirnya berpulang ke rahmatullah. bye, nu.

karena 'danu' generasi ketiga meninggal itulah, ayah saya (namanya 'distrijono', anak pertama mbah mantri) berinisiatif untuk memakai nama 'danu' untuk anak keduanya yang tampan ini (sumpah, ga usah protes deh...), yaitu 'dhanu pinandito'.

nah, masalahnya, siapakah 'danu' generasi ke-4? kalo dilihat dari silsilah, berarti anak dari salah satu di antara saya dan kakak saya ('damas adrianto', jadi sekeluarga pake 'd' semua). ayah saya anak mbarep, ngasih nama 'danu' ke anak nomor dua-nya. om sulis anak nomor dua, ngasih nama 'danu' ke anak mbarepnya. nah loo..

tapi liat besok lah. siapapun yang ngasih nama 'danu' ke anaknya, ga masalah. saya sih no problem aja kalo mesti ngasih nama turunan, apalagi nama yang sama buat anak saya. tapi kalo besok2 gimana yaaa??

hehehe, jadi inget. kalo di luar negeri kan biasa ada yang namanya sama antara bapak dan anak, cuma dibedain senior ama junior aja. lha kalo disini? kalo empat turunan sama2 namanya danu trus gimana?

wah, bisa jadi 'the danus' nih, hehehe...

Monday, August 14, 2006

duluan mana ya?

saya inget, dulu pernah baca kolom pojok di salah satu surat kabar. disana ada seorang pembaca yang menulis tentang perbedaan waktu antara negara2 di belahan bumi barat dengan negara2 di belahan bumi timur. negara2 di belahan bumi timur menyambut hari baru lebih awal daripada negara2 di belahan bumi barat. amerika dan indonesia sendiri beda waktunya kurang lebih 12 jam. jadi, kalau di indonesia sekarang hari senin pagi, maka di amerika waktu itu masih minggu sore.

nah, dia juga nulis kalau orang2 di belahan bumi barat tu beruntung. soalnya mereka tau bahwa 'selalu ada hari esok'. mereka tau kalo di indonesia sudah hari berikutnya, makanya mereka nyante2 aja menyambut hari esok. bahkan kalo ada kiamat, mereka punya waktu satu hari lebih lama dibandingkan orang2 di belahan bumi timur.

berarti kalo kiamat dateng senin pagi jam 10, hari minggu jam 10 malem orang2 amerika dah tau kalau besoknya bakalan ada kiamat. berarti juga, kalo setelah kiamat kita ketemu sama orang amerika, mungkin mereka bakalan nyombong coz dah tau bahwa besoknya ada kiamat, so mereka bisa prepare.

bener ga sih?

kalo menurut saya sih, ga gitu. bagi Allah, kiamat tu pasti jauh lebih mudah daripada membalikkan telapak tangan. kun fayakun. kalo Allah pengen menghancurkan bumi dan isinya, tentunya ga usah nunggu sampe satu hari. dalam sekejap mata pun bumi bisa hancur. kayaknya ga mungkin dong kehancuran bumi tu pelan2, biar semua negara di dunia kiamatnya waktunya sama, misalnya senin jam 10 pagi. pasti semuanya beda2. itu menurut saya.

jadi kalo abis kiamat kita ketemu sama orang amerika, mungkin kita bakalan berdebat tentang apakah kiamat dateng hari senin pagi atau minggu malem...:). wallahu a'lam.

yah, bagaimanapun juga kita ga bakalan tau kapan kiamat dateng, dimana, atau mana yang kena duluan. mendingan kan kita mempersiapkan diri kita, nyari bekal sebnyak2nya biar selamat dunia akhirat, ya ga? yuk, bareng2 menyucikan diri menjelang ramadhan...

Friday, August 04, 2006

new blog, so...??

blog baruuu....
trus knapaaa???
(masih bingung mau ngapain)